Minggu, 20 November 2016

Sayangi ayah ibu

150 CARA BERBAKTI  KEPADA IBU

1. Pilihlah hadiah yang cocok untuk setiap moment yang tepat, seperti di hari raya, pada saat pernikahan putra-putrinya, ketika pulang dari safar, ketika sembuh dari penyakit, dll.

2. Membuatkan rekening khusus di Bank atas nama ibu, kemudian anak-anak dapat bekerjasama untuk mentransfer uang ke rekening tersebut setiap bulan agar segala kebutuhan ibu dapat terpenuhi.

3. Memahami kondisi kehidupan ibu, kemudian memperlakukan ibu dengan perlakuan yang sesuai dengan kondisi saat itu.

4. Berhati-hati dalam memilih kalimat-kalimat yang akan dikatakan di hadapan ibu.

5. Berusahalah sekuat tenaga agar ibu menjadi orang terakhir yang anda berpamitan kepadanya jika akan bepergian. Jadikanlah ia orang terakhir yang anda lihat sebelum berangkat. Berpamitanlah kepadanya dengan langsung berhadapan muka.

6. Pastikan bahwa ia adalah orang pertama yang anda datangi jika pulang dari bepergian. Ucapkan salam kepadanya, duduklah bersamanya, dan hiburlah ia. Sebelumnya, beritahukan rencana kepulangan dan kedatangan anda, sehingga ia tidak kaget. Dan jangan menunda-nunda untuk menemuinya, atau anda beranggapan bahwa waktunya belum tepat untuk mengunjunginya.

7. Selama dalam perjalanan, berusahalah untuk selalu berkomunikasi dengannya setiap hari, sekalipun hanya sesaat dalam waktu singkat.

8. Berusaha keraslah untuk menjumpainya setiap hari jika anda satu kota dengannya, Janganlah kesibukan dunia menjauhkan anda darinya, dan dari beramah tamah dengannya.

9. Jika ibu tidak satu kota dengan anda, maka hendaklah anda selalu berkomunikasi dengannya setiap hari.

10. Hendaknya anda mendekatkan diri dan berkasih sayang dengan siapa pun yang ia cintai.

11. Kecuplah keningnya atau tangannya atau kakinya ketika berjumpa dengannya.

12. Ajarilah anak-anak anda tentang tingginya kedudukan ibu anda (yakni nenek mereka). Ajarkanlah itu dengan perkataan dan perbuatan anda.

13. Berusaha keras untuk memenuhi tuntutannya, dan berusaha keras untuk memenuhi keinginan-keinginan tepat pada waktunya.

14. Janganlah anda berjanji kepadanya kemudian tidak menepatinya.

15. Sandarkanlah segala kesuksesan dalam hidup anda kepada Allah, kemudian katakanlah bahwa hal itu berkat didikan dari ibu anda.

16. Janganlah anda membantahnya, sekalipun anda benar. Akan tetapi gunakanlah cara yang ringan untuk mengemukakan pendapat anda, itupun jika dalam hal itu terkandung suatu manfaat.

17. Jangan menyepelekan pendapatnya di hadapan orang lain atau di hadapan saudara-saudara anda.

18. Janganlah ketidaktahuannya terhadap sebagian urusan kehidupan menyebabkan anda kurang menghargainya atau meremehkannya.

19. Janganlah anda tertawa terbahak-bahak di hadapannya, atau mengeraskan suara di sisinya, atau memandang dengan pandangan yang tajam di hadapannya, atau dengan pandangan kebencian, atau dengan bermuka masam di depannya.

20. Pastikan bahwa ibu menjadi orang pertama yang mendengar setiap berita gembira dalam hidup anda.

21. Jaga dan peliharalah kesehatannya.

22. Buatlah jadwal bulanan untuk medical check up lengkap, untuk memastikan kesehatannya yang membuatnya tenang.

23. Penuhilah kebutuhan-kebutuhannya sesuai dengan tingkat usianya.

24. Ketika ia sakit dan ia merasa kesakitan, maka rasakan pula kesakitannya oleh anda. Jika ia kembali sehat, maka tampakkan kegembiraan anda. Lakukanlah ruqyah terus-menerus oleh anda.

25. Tenangkanlah ia ketika sakit. Katakan bahwa ia akan sehat seperti sedia kala, Insya Allah. Dan jangan beritahukan tentang dampak buruk apa pun dari penyakitnya.

26. Datangkanlah dokter-dokter spesialis ke tempat tinggalnya.

27. Tolonglah ibu dalam bersilaturrahim kepada kaum kerabatnya. Bawalah ia untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya serta sanak saudaranya yang dekat di hatinya.

28. Sediakan kotak khusus untuk ibu, yang selalu diisi dengan berbagai macam biscuit, makanan yang manis-manis, mainan-mainan, dan hadiah-hadiah kecil. Tujuannya agar ibu dapat memberikannya kepada cucu-cucunya ketika mereka mengunjunginya.

29. Ketika ibu mengadakan safar atau bepergian jauh, maka usahakanlah untuk selalu menghubunginya.

30. Janganlah anda mengungkapkan kesedihan yang memilukan kepadanya. Jangan pula mengeluhkan rasa sakit kepadanya, karena akan membuat ia sedih.

31. Janganlah anda membicarakan kesulitan rumah tangga dihadapannya, karena urusan itu akan membuatnya sedih.

32. Janganlah anda sering memuji isteri anda sendiri di hadapannya.

33. Demikian pula, janganlah anda ceritakan setiap hubungan anda dengan ibu anda kepada isteri anda. Pereratlah hubungan diantara isteri dan ibu.

34. Jauhilah dari menghakimi permasalahan rumah tangga yang timbul antara ibu dan ayah.

35. Jangan mengkritik pakaiannya, penampilannya, pilihannya, suasana hatinya, atau gaya bicaranya, atau cara menangani sesuatu. Carilah jalan untuk mengingatkannya dengan cara yang tidak melukai sehingga hatinya sakit.

36. Jalinlah hubungan anda bersama saudara-saudara anda dengan kuat, meskipun diantara anda dan saudara anda terdapat masalah, namun jangan anda menampakkannya di hadapan ibu.

37. Bagaimanapun keadaan rumah tangga kedua orangtua anda, maka janganlah anda mendukung ayah anda untuk menikah lagi. Jika anda terpaksa melakukannya untuk mendukung ayah anda menikah lagi, maka jangan sampai ibu anda mengetahuinya.

38. Ajarilah ibu perkara-perkara agama dengan bijaksana dan nasehat yang baik.

39. Janganlah anda menghalanginya untuk menghadiri majelis-majelis ilmu.

40. Bersemangatlah beramal ketika ibu sedang menunaikan ketaatan atau beribadah, seperti ketika sedang pergi haji.

41. Ajukanlah permohonan maafmu untuk saudara-saudaramu yang melakukan kesalahan.

42. Janganlah anda membesar-besarkan kesalahan orang lain di hadapan ibu.

43. Janganlah anda membuatnya terkejut dengan kabar berita yang menyedihkan atau bencana yang tiba-tiba, tanpa membuat ibu anda siap untuk mendengarnya.

44. Wanita, tanpa memandang usia, dia akan merindukan kata-kata yang emosional dan romantis. Maka jangan halangi mereka dari mendengar kata-kata puitis yang segar dari suara anda yang manis.

45. Jangan anda katakan bahwa ia telah tua, dan jangan anda katakan bahwa ia kini tidak mampu melaksanakan tugas-tugasnya, akan tetapi berilah semangat kepadanya.

46. Janganlah anda mencegah ibu dari menggunakan apa pun yang disukai wanita.

47. Jika ayah memiliki isteri-isteri yang lain selain ibu, maka janganlah anda memuji mereka di hadapan ibu, dan janganlah anda cenderung membela mereka dan mengorbankan ibu.

48. Janganlah anda banyak memuji hasil didikan orang lain di depan ibu anda. jangan pula berangan-angan ingin menjadi seperti mereka, atau ingin mencapai derajat seperti mereka.

49. Ketika ibu berbicara, pasanglah pendengaran anda, juga penglihatan dan hati anda.

50. Datangilah ibu anda selalu dengan senyum.

51. Ceritakanlah kejadian-kejadian dunia di sekitarnya.

52. Pujilah didikannya selamanya, berterima kasihlah atas segala pemberiannya, dan perbanyaklah menyebutkan jasa-jasanya disertai ucapan terima kasih.

53. Sampaikanlah bahwa obsesi terbesar dalam hidup anda adalah agar ibu anda hidup bahagia.

54. Berbuat baik kepada ayah dari ibu jika masih hidup.

55. Wakaflah atas nama ibu untuk menambah kebaikannya.

56. Ketika ibu menyebutkan kepada anda sebagian dari angan-angannya, atau sesuatu yang berkaitan dengannya, maka janganlah anda menunggu beliau memintanya kepada anda. Akan tetapi bersegeralah anda untuk memenuhi dan mewujudkan angan-angannya itu sesuai dengan kemampuan anda.

57. Dahulukanlah ibu anda di atas seluruh kesibukan anda.

58. Hormatilah ibu di rumah anda. Mintalah ia untuk berkunjung ke rumah anda kapan saja. Bujuk ia untuk bermalam di rumah anda.

59. Bawalah ia bertamasya bersama-sama dengan anda dan anak-anak anda, atau dengan saudara-saudara anda.

60. Di waktu yang lain, sekali-sekali ajaklah ibu untuk bersama-sama dengan anda menikmati salah satu makanan kesukaannya di restoran cukup baik.

61. Kunjungilah toko-toko atau tempat belanja bersamanya, untuk mewujudkan keinginan-keinginannya.

62. Berikanlah hadiah yang cocok untuk kaum pria, yang sekiranya dapat ibu berikan kepada ayah anda.

63. Memuji ayah anda dan memperlakukannya dengan baik di hadapan ibu.

64. Memuji apa yang ibu lakukan.

65. (Jika anda wanita), maka anak-anak wanita pada umumnya lebih dekat kepada ibu daripada anak-anak laki-laki. Maka dari itu, jagalah rahasia ibu, dan biarkan ibu mengetahui rahasia-rahasia anda.

66. Anak laki-laki akan dibutuhkan oleh ibu dalam menghadapi ujian-ujian hidup dan kesulitan-kesulitan. Oleh karena itu hendaklah mereka menjadi sandaran yang dapat melindunginya dalam menghadapi kesusahan dan penderitaannya.

67. Kelembutan anda terhadap saudara-saudara perempuan anda, keramahan anda kepada mereka, dan perilaku anda yang baik ketika berurusan dengan mereka, serta memberikan hadiah di setiap periode bagi mereka, semua itu akan memperkokoh kebahagiaan ibu.

68. Janganlah anda malu dengan tindakan apa pun yang dilakukan oleh ibu yang sesuai dengan usianya, namun tidak cocok dengan dunia di sekitarnya. Justeru berbanggalah dengannya.

69. Ajarkan kepada anak-anak anda untuk bersikap lemah lembut terhadap ibu.

70. Peganglah tangannya di masa tuanya, sodorkanlah sepatunya, tuntunlah ketika ia berjalan.

71. Sediakan hadiah atau penghargaan bagi anak-anak anda yang memperlakukan ibu dengan baik.

72. Seorang ibu akan mementingkan untuk tinggal di rumahnya. Oleh karena itu, bantulah ia untuk membuat rumahnya nyaman dengan suasana yang terbaik.

73. Sediakan tempat khusus di kamar tidur ibu.

74. Berbuat baiklah kepada kaum kerabat ibu, dan bantulah ibu untuk berbuat baik kepada mereka.

75. Jika ibu anda memiliki hobi tertentu, cobalah luangkan waktu anda bersamanya.

76. Dalam bidang apa pun hobi anda, persembahkanlah untuk ibu satu karya dari anda sendiri.

77. Dalam beberapa komunitas masyarakat, seorang ibu akan senang apabila namanya digunakan untuk menamai cucu-cucunya.

78. Ketika menaiki kendaraan, dahulukanlah ibu anda sebelum anda dan orang-orang selainnya.

79. Ketika berbicara dengannya, janganlah anda menggunakan kata-kata yang keras, kasar, atau berat (sulit dipahami).

80. Adakanlah ajang lomba untuk anak-anak anda yang masih kecil demi mendapatkan hadiah yang terbaik. Lalu hadiah itu diserahkan kepada ibu. Hal itu akan melatih mereka untuk memuliakan kedudukan ibu di mata mereka.

81. Pilihlah waktu-waktu mustajab untuk berdoa, dengan doa yang dikhususkan untuk ibu.

82. Perlihatkanlah kesan-kesan dan kekaguman teman-teman anda terhadap semua yang diberikan oleh ibu kepada anda.

83. Anda harus meluangkan waktu khusus untuk duduk bersamanya sepenuhnya.

84. Kepada para gadis, hendaklah mereka mempersilahkan ibunya untuk berkomunikasi dengan teman-teman mereka.

85. Banggakanlah ibu di setiap tempat dan kesempatan.

86. Perdengarkanlah kepadanya kisah-kisah tentang berbuat baik kepada orangtua.

87. Mintalah ibu untuk mendoakan anda, semoga Allah memberikan rizki berupa dapat berbuat baik kepadanya.

88. Mintalah selalu keridhaan ibu terhadap anda.

89. Berlombalah anda dengan semua orang untuk berbuat baik kepadanya. Jadikanlah selalu diri anda sebagai pemenang perlombaan itu.

90. Janganlah anda menaikkan suara di sisinya. Merendahlah di hadapannya.

91. Jika anda satu kota dengannya, namun masih dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh antara anda dengannya, maka perdekatlah jarak itu semampu anda.

92. Jika anda bekerja di kota lain, berusahalah untuk menghubunginya dalam setiap kesempatan.

93. Jika anda berada di kota lain, maka tidak cukup jika anda berkunjung sendirian. Karena anak-anak dari anak-anak ibu anda pun menempati tempat yang sama (di hati ibu anda).

94. Dalam banyak hal, anda harus mengalahkan diri anda sendiri dan keinginan nafsu anda pribadi dalam rangka mendahulukan ibu anda.

95. Intropeksi diri anda sepanjang waktu dan periksalah dengan teliti, apakah anda telah benar-benar berbuat baik kepada ibu, atau masih melalaikannya?

96. Jadilah anda orang yang memiliki keyakinan (yang tidak tergoyahkan) selamanya, bahwa apa yang anda perbuat terhadap kedua orangtua anda, kelak akan kembali kepada anda, dengan kebaikan anak-anak anda kepada anda, segera atau nanti.

97. Di saat ibu jatuh sakit, tinggallah bersamanya, awasilah ia dengan segenap perhatian anda.

98. Pujilah selalu gaun yang ia kenakan.

99. Ceritakanlah peristiwa-peristiwa dalam perjalanan anda.

100. Sikapilah keprihatinannya dengan lapang dada. Terimalah kritikannya dengan jiwa besar. Seraplah nasehat-nasehat dan bimbingannya dengan kerendahan hati dan keridhaan.

101. Ajaklah ibu anda bermusyawarah dalam urusan anda.

102. Jika duduk di majelisnya, maka duduklah dengan sopan, sesuai dengan kedudukan dan derajatnya.

103. Pakailah etika makan di hadapannya.

104. Pelajarilah kepribadiannya, dan perlakukan ia sesuai dengan kepribadiannya.

105. Hendaklah anak-anak wanita tidak terlalu sibuk dengan kehidupan keluarganya, sehingga tidak memperhatikan ibunya.

106. Sebagian dari kebutuhan-kebutuhan seorang ibu tidak akan diketahui oleh anak laki-lakinya, maka alangkah baiknya jika anak-anak wanita memperhatikan hal itu, dan memberikan kebutuhan-kebutuhan tersebut kepada ibunya.

107. Ketika anda mengunjungi keluarga ibu, maka jagalah anak-anak anda agar tidak mengganggu perabotan rumah.

108. Ketika anak anda menghancurkan atau merusak beberapa perabotan rumah ibu, maka segeralah anda memohon maaf atas kelalaian anda dalam mengawasi anak anda, dan gantilah barang tersebut dengan yang lebih baik.

109. Selama ibu sakit, jiwanya akan berubah, maka sebaiknya kita menengoknya dan membantu dia agar dapat melalui ujian ini.

110. Jika anak cucu ibu anda banyak maka alangkah baiknya disusun jadwal kunjungan kepadanya, agar tidak merepotkan ibu anda.

111. Bagi orang yang memiliki anak-anak yang banyak, hendaklah ia memilih tempat yang tepat (untuk pertemuan).

112. Wakaf atas nama ibu.

113. Disarankan setiap anak menyadari kelebihan masing-masing yang disukai oleh ibunya, lalu dengan kelebihannya itu masing-masing melayani dan membantu ibu mereka dengan potensi yang ada pada mereka.

114. Sering-seringlah mengunjunginya, karena seorang ibu tidak akan bosan melihat anak-anaknya.

115. Berilah ibu anda perangkat komunikasi modern.

116. Jika ibu anda memiliki HP, kirimkanlah ungkapan yang indah melalui pesan atau SMS.

117. Ketika ibu telah berusia lanjut, anda dapat mengumpulkan hadiah-hadiah untuk diberikan kepada sekelompok teman-temannya.

118. Ketika menghubungi ibu melalui telephon, maka ucapkanlah salam terlebih dahulu, jangan tergesa-gesa untuk langsung berbicara.

119. Terapkanlah etika berbicara ketika anda berada di majelisnya.

120. Ketika anda baru tiba dari suatu perjalanan ke sebuah negeri, berikanlah kepada ibu anda suatu hadiah yang anda beli dari negeri tersebut.

121. Bawalah ibu ke tempat-tempat di mana ia lahir dan tumbuh dewasa, atau ke tempat-tempat khusus dimana ia meniti hari-hari pertama pernikahannya.

122. Mendidik saudara-saudara kita tentang keutamaan berbuat baik kepada ibu.

123. Ketika kedua orangtua anda berpisah, dan salah satunya meninggalkan yang lain, maka janganlah anda berbuat sesuatu yang tidak disukainya.

124. Ketika timbul beberapa masalah keluarga dalam rumah tangga, maka berikanlah solusi praktis dengan cara diplomatik untuk menyelamatkan biduk rumah tangga.

125. Ketika ibu menikah lagi setelah berpisah dengan ayah, maka hormatilah suami ibu.

126. Ketika ibu menikah lagi setelah berpisah dengan ayah, maka tinggikanlah kedudukannya.

127. Hubungilah orang-orang yang sulit menghubungi ibu, dan biarkan ibu berkomunikasi dengan mereka.

128. Di usia lanjutnya, kasihilah ia yang telah lemah.

129. Jika ibu mengungkapkan pandangan yang berbeda dengan anda, janganlah anda memaksakan diri anda dan pikiran anda sendiri kepadanya.

130. Jika ibu anda berlangganan beberapa majalah, maka berlanggananlah majalah yang cocok dengannya, lalu berikanlah kepadanya.

131. Berikanlah uang kepadanya setiap waktu dan kesempatan, jangan biarkan beliau meminta dari anda.

132. Belikanlah barang-barang keperluannya, dan jangan anda mengambil uang pembelian darinya.

133. Buatkanlah sebuah rekening bank khusus untuknya, dan ajarkanlah bagaimana mengoperasikan mesin ATM.

134. Jika anda melakukan kesalahan yang berkaitan dengan hak ibu anda, maka mintalah seseorang yang paling mulia di sisi ibu untuk menjadi penengah antara anda dan ibu.

135. Ketika ibu memasuki usia tua, janganlah anda melontarkan julukan-julukan baginya yang membuat ia merasakan keuzuran, seperti julukan “nenek-nenek” atau “manula”.

136. Jika anda melihat perbuatan ibu yang tidak pantas dalam kehidupan rumah tangga dengan ayah, maka janganlah anda memberikan saran secara langsung.

137. Fikirkanlah selalu sarana-sarana baru untuk mendapatkan keridhaan ibu anda.

138. Janganlah anda terpaku pada satu cara tertentu saja dalam berbuat baik kepada ibu anda, akan tetapi jadikan seluruh aktivitas anda untuk berbuat baik kepadanya.

139. Apapun tindakan, ide, atau pandangan ibu, janganlah anda menyepelekannya, baik secara terang-terangan atau diam.

140. Janganlah anda memutus pembicaraannya atau menyela selama pembicaraan masih berlangsung. Janganlah anda berkata-kata kepada orang lain sementara ibu anda sedang berbicara kepada anda.

141. Tela’ahlah selalu hadits-hadits yang menerangkan keutamaan berbuat baik kepada ibu, dan tela’ah pula riwayat hidup mereka yang bebruat baik kepada ibu.

142. Jika anda melihat orang yang telah tertimpa bencana dengan menyakiti ibunya, maka ucapkanlah:Alhamdulillahil ladzi ‘aafaanii mimmaa ibtalaahu bih.“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari cobaan yang menimpanya.”

143. Di majelisnya, janganlah anda membelakangi ibu, atau menjauh dari hadapannya, atau rela menjadi orang terakhir yang datang paling belakang.

144. Jika ibu anda ingin berjalan, maka sodorkanlah sandalnya, dan berjalanlah anda di sampingnya.

145. Janganlah anda menjadi orang yang terakhir mengetahui berita tentang ibu anda, atau orang terakhir yang mengucapkan selamat kepadanya.

146. Ketika ibu memarahi anda atau kesal kepada anda, maka janganlah anda menjawabnya, atau menjelaskan situasi anda kepadanya saat itu juga.

147. Sebagian ibu ada yang cepat marah, maka bersabarlah anda.

148. Tulislah sifat-sifat ibu anda dalam sehelai kertas, kemudian tulislah cara yang baik dalam menyikapinya agar berkenan di hatinya.

149. Renungkanlah orang-orang di sekitar anda. Lihatlah bagaimana orang yang sudah tidak memiliki ibu.

150. Ketika ibu anda sakit, tangguhkanlah perjalanan anda.

(Dinukil dari kitab 150 Thariqatan Liyashila Birruka Biummika, oleh Sulaiman bin Shaqir ash Shaqir, dengan beberapa perubahan)
Diposting oleh : Abu Fahd Negara Tauhid.
http://gizanherbal.wordpress.com/2011/09/06/150-cara-berbakti-kepada-ibu/

Dimana Allah

Tahukah Kamu, Di Manakah Allah?

Ada sebuah pertanyaan penting yang cukup mendasar bagi setiap kaum muslimin yang telah mengakui dirinya sebagai seorang muslim. Setiap muslim selayaknya bisa memberikan jawaban dengan jelas dan tegas atas pertanyaan ini, karena bahkan seorang budak wanita yang bukan berasal dari kalangan orang terpelajar pun bisa menjawabnya. Bahkan pertanyaan ini dijadikan oleh Rasulullah sebagai tolak ukur keimanan seseorang. Pertanyaan tersebut adalah “Dimana Allah?”.
Jika selama ini kita mengaku muslim, jika selama ini kita yakin bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah, jika selama ini kita merasa sudah beribadah kepada Allah, maka sungguh mengherankan bukan jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dimanakah dzat yang kita sembah dan kita ibadahi selama ini. Atau dengan kata lain, ternyata kita belum mengenal Allah dengan baik, belum benar-benar mencintai Allah dan jika demikian bisa jadi selama ini kita juga belum menyembah Allah dengan benar. Sebagaimana perkataan seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: “Seseorang tidak dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah Ta’ala” (Muqoddimah Qowa’idul Mutsla).
Sebagian orang juga mengalami kebingungan atas pertanyaan ini. Ketika ditanya “dimanakah Allah?” ada yang menjawab ‘Allah ada dimana-mana’, ada juga yang menjawab ‘Allah ada di hati kita semua’, ada juga yang menjawab dengan marah sambil berkata ‘Jangan tanya Allah dimana, karena Allah tidak berada dimana-mana’. Semua ini, tidak ragu lagi, disebabkan kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap ilmu agama, terhadap ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah yang telah jelas secara gamblang menjelaskan jawaban atas pertanyaan ini, bak mentari di siang hari.
Allah bersemayam di atas Arsy
“Dimanakah Allah?” maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas langit. Hal ini sebagaimana diyakini oleh Imam Asy Syafi’I, ia berkata: “Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadits yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya” (Kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah, Bab 4). Demikian juga diyakini oleh para imam mazhab, yaitu Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (Imam Hambali), tentang hal ini silakan merujuk pada kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah karya Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais.
Keyakinan para imam tersebut tentunya bukan tanpa dalil, bahkan pernyataan bahwa Allah berada di langit didasari oleh dalil Al Qur’an, hadits, akal, fitrah dan ‘ijma.

1. Dalil Al Qur’an
Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy” (QS. Thaha: 5)
Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16)
Juga ayat lain yang artinya:
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij: 4). Ayat pun ini menunjukkan ketinggian Allah.

2. Dalil hadits
Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di atas langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang artinya:
“Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’ ” (HR. Bukhari-Muslim)

3. Dalil akal
Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: “Akal seorang muslim yang jernih akan mengakui bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan maha suci dari segala kekurangan. Dan ‘Uluw (Maha Tinggi) adalah sifat sempurna dari Suflun (rendah). Maka jelaslah bahwa Allah pasti memiliki sifat sempurna tersebut yaitu sifat ‘Uluw (Maha Tinggi)”. (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha)

4. Dalil fitrah
Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan? Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain.

Namun perlu digaris bawahi bahwa pemahaman yang benar adalah meyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa mendeskripsikan cara Allah bersemayam. Tidak boleh kita membayangkan Allah bersemayam di atas Arsy dengan duduk bersila atau dengan bersandar atau semacamnya. Karena Allah tidak serupa dengan makhluknya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11)
Maka kewajiban kita adalah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit sesuai yang dijelaskan Qur’an dan Sunnah tanpa mendeskripsikan atau mempertanyakan kaifiyah (tata cara) –nya. Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang bagaimana caranya Allah bersemayam? Maka beliau menjawab: “Bagaimana caranya itu tidak pernah disebutkan (dalam Qur’an dan Sunnah), sedangkan istawa (bersemayam) itu sudah jelas maknanya, menanyakan tentang bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang menyimpang, kemudian memerintahkan si penanya keluar dari majelis”. (Dinukil dari terjemah Aqidah Salaf Ashabil Hadits)

Allah bersama makhluk-Nya
Allah Ta’ala berada di atas Arsy, namun Allah Ta’ala juga dekat dan bersama makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah bersamamu di mana pun kau berada” (QS. Al Hadid: 4)
Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu. Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.
Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.
Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini: “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .
Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya:
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)

Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)
Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”. Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah. Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di). Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.
Kaum muslimin, akhirnya telah jelas bagi kita bahwa Allah Yang Maha Tinggi berada dekat dan selalu bersama hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui isi-isi hati kita. Allah tahu segala sesuatu yang samar dan tersembunyi. Allah tahu niat-niat buruk dan keburukan maksiat yang terbesit di hati. Allah bersama kita, maka masih beranikah kita berbuat bermaksiat kepada Allah dan meninggakan segala perintah-Nya?
Allah tahu hamba-hambanya yang butuh pertolongan dan pertolongan apa yang paling baik. Allah pun tahu jeritan hati kita yang yang faqir akan rahmat-Nya. Allah dekat dengan hamba-Nya yang berdoa dan mengabulkan doa-doa mereka. Maka, masih ragukah kita untuk hanya meminta pertolongan kepada Allah? Padahal Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Kemudian, masih ragukah kita bahwa Allah Ta’ala sangat dekat dan mengabulkan doa-doa kita tanpa butuh perantara? Sehingga sebagian kita masih ada yang mencari perantara dari dukun, paranormal, para wali dan sesembahan lain selain Allah. Wallahul musta’an. [Yulian Purnama]
http://buletin.muslim.or.id/aqidah/tahukah-kamu-di-manakah-allah 
Satu Tanggapan
Allah itu berada di atas langit dan di atas Arsy. Itulah keterangan yang benar sesuai dengan informasi yang Allah SWT tetapkan sendiri dalam Al-Quran Al-Kariem.
Keterangan bahwa Allah SWT ada di atas Arsy adalah firman Allah SWT sendiri yang ditetapkan di dalam Al-Quran Al-Kariem. Maka tidak ada kesempatan sedikitpun bagi manusia untuk menolak apa yang telah Allah SWT tetapkan sendiri tentang dirinya.
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.(QS. Al-Araf : 54)
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia.Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (QS. Yunus : 3)
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan , menjelaskan tanda-tanda , supaya kamu meyakini pertemuan dengan Tuhanmu. (QS. Ar-Ra’d : 2)
Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .(QS. Thaha : 5)
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy , Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia. (QS. Al-Furqan : 59)
Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Tidak ada bagi kamu selain dari padaNya seorang penolongpun dan tidak seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?(QS. As-Sajdah : 4)
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hadid : 4)
Selain itu di dalam Al-Quran Al-Kariem juga ada keterangan bahwa Allah SWT itu ada di langit.
�Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah meraa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku�. ( QS Al-Mulk : 16-17).
http://buletin.muslim.or.id/aqidah/tahukah-kamu-di-manakah-allah

Sedikit, juga nylekit

Jumat, 05 Februari 2016

Maaf guys baru bisa mengisi blog ini dengan tulisan asli saya sndiri. Saya memang jarang online  sekalipun online jarang buanget buka blogger. Hehehe tapi kali ini guys saya ingin posting artikel milik nya UYM, yaa memang cuma copas sih, tapi yakin dehh ga ada ruginya kalo dibaca , bermanfaat malah buat anak muda spt kita ini (emg masih muda ya ??? Hehe :D )  sedikit motivasi buat kita yang sering galau, mikirin masa depan yang entah kemana mau kita bawa. 
Klik yaa :)  
http://yusufmansur.com/dimana-ada-niat-disitu-ada-jalan/